Duta Masyarakat, 21 Januari 2009
Matangkan Moral Lewat Pendidikan Agama
Bermula dari Pengajian Rutin
Kebaikan yang tak tertata akan kalah dengan keburukan yang tertata. Pepatah lama itu nampaknya masih terus actual dalam kehidupan saat ini. Di mana kemerosotan moral demikian masif terjadi akibat efek buruk jaman modern yang terstruktur dengan rapi.
Meski begitu, jauh di dalam wilayah Rungkut Rurabaya, tepatnya di jalan Pandugo gang I nomor 17 terdapat sebuah tempat penggemblengan dan pematangan moral melalui pendidikan keagamaan.
Di tengah masyarakat perkotaan yang terus berubah itulah terdapat pondok pesantren (ponpes) AL-BAIAD. Ponpes beraliran Ahlussunnah wal jama’ah ini didirikan dan diasuh oleh Ustadz Drs. Syaiful Ulum Nawawi,SE. MM. Menurut penuturan putra sulungnya, Asif faroqi, ponpes yang resmi berdiri pada tahun 2002 ini semula adalah berupa pengajian rutin dalam bentuk Majelis Ta’lim, yakni majelis ta’lim Ahad Dhuha.
“Awalnya dulu abah mengasuh majelis ta’lim Nurul Haq di Rungkut. Namun kemudian abah memutuskan membuka sendiri majelis ta’lim di rumah dengan nama Ahad Dhuha. Majelis Ta’lim ini mendapat respon positif dari warga sekitar. Bahkan, jama’ah abah yang ada di Nurul Haq juga ikut di Ahad Dhuha, “papar Asif.
Majelis Ta’lim Ahad Dhuha ini diikuti oleh mahasiswa dan karyawan dari berbagai daerah sekitar Surabaya. Seiring bergulir waktu, semakin banyak pula dalam kegiatan Majelis Ta’lim. Demi memperbaiki pola dakwah dan pembelajaran, akhirnya pada bulan Muharram 1424 H (bertepatan dengan tahun 2002 M) didirikan sebuah Jam’iyah dengan nama Lembaga Studi dan Pengembangan Potensi Ummat Pesantren Darul Ibadah AL-BAIAD. ”AL-BAIAD ini merupakan singkatan dari Amal Bakti Insani Ahad Dhuha,”Imbuhnya
Hingga saat ini, kegiatan yang dimiliki pesantren yang menggabungkan pembelajaran fiqih, Tauhid, dan tasawuf ini cukup padat.
Beberapa kegiatan yang ada ialah pengajian Ahad pagi hingga siang (Ahad Dhuha). Pengajian yang diasuh langsung oleh Ustadz Syaiful Ulum ini mayoritas diikuti oleh para pelajar, mahasiswa, dan karyawan. Beberapa kitab yang dikaji dalam pengajian ini antara lain adalah Ahkamul Fuqoha dan Ahkamun Nabawiyah untuk ilmu fiqih, Nashaihul Ibad dan Hikam untuk ilmu Tasawwuf, Jami’us Shoghir dan Muhtarul Ahadits untuk ilmu hadits, serta kitab Qurrotul Uyun untuk bimbingan rumah tanga sakinah.
Selain itu terdapat kegiatan Madrasatul Qur’an Pelita Hati Az-Zahro atau lebih dikenal dengan sebutan MQ. Az-Zahro. Kegiatan ini merupakan aktifitas pendidikan dengan peserta didik mulai usia TK sampai Sekolah Menengah Atas atau Kejuruan.
“MQ Az-Zahro memiliki 9 kelas belajar yang terbagi menjadi 2 waktu belajar, yakni sore dan malam. Kelas sore adalah kelas pendidikan Al-Quran. Kelas ini terdiri dari peserta didik usia TK sampai SD. Sedangkan kelas malam adalah kelas pendidikan Diniyah, dengan peserta didik mayoritas usia sekolah SMP sampai SMA.” papar Asif.
Ada juga kegiatan Dzirosah Tsaqofah Al-Islamiyah yang biasanya dilakukan untuk mengisi kajian di bulan Ramadhan, Qiro’atul Qur’an Bittaghonni (seni baca Al-Qur’an), serta Biro Layanan Zakat, Infaq dan Shodaqoh. Hingga saat ini, santri yang belajar di ponpes AL-BAIAD sekitar 300 orang dari berbagai latar belakang sosial. Selain itu juga terdapat lima santri yang menetap, empat diantaranya laki-laki dan satu perempuan.”Mereka datang dari luar Surabaya semua. Ada yang dari Tulung Agung, Banyuwangi, Pacitan, Probolinggo dan Malang.” jelasnya

1 response so far ↓
asif // 14 April 2009 pada 2:39 pm |
alhamdulillah, semakin maju saja uda nongol di media cetak …