Posted by: albaiad | Juni 14, 2008

Ziarah Ampel

suasana sebelum keberangkatanSabtu lalu (7/6), Keluarga besar Pon Pes Al-Baiad, khususnya jama’ah Majelis Ta’lim Ahad Dluha mengikuti acara ziarah auliya’ ke makam mbah Sunan Ampel.

Berkumpul di pondok sejak setengah empat sore, menggunakan empat mobil jama’ah meninggalkan pondok sekitar pukul setengah lima sore.

Acara ziarah ke makam Sunan Ampel ini rencananya akan dilaksanakan setahun sebanyak tiga kali, sebagaimana disampaikan oleh Abdullah Umar, kepala departemen Humas Majelis Ta’lim Ahad Dluha dalam Rapat Kerja beberapa bulan silam. Masih menurut Abdullah Umar, sedangkan mengenai tujuan diadakan acara ini, selain untuk ngalap berkah juga memiliki tujuan untuk mengingatkan kita pada kematian.

“Tujuan acara ini ya…biar ingat mati lah mas ….” tukasnya ketika ditanya.

Memulai perjalanan menuju makam Bungkul. Sampai di makam yang daerah sekitarnya kini disulap menjadi sebuah taman kota menjelang maghrib, sehingga rombongan memutuskan sholat Maghrib di situ. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju makam Mbah Karimah di daerah Kembang Kuning Surabaya. Di makam mertua Sunan Ampel yang terletak beberapa meter di sebelah selatan Masjid Rahmat Surabaya tersebut rombongan tidak lama, karena bertepatan dengan acara haul Mbah Karimah. Ramenya minta ampun. Perjalanan pun dilanjutkan menuju Makam Sunan Ampel. Seperti biasa, makam salah satu sesepuh walisongo ini tidak pernah sepi dari peziarah. Di sana selama kurang lebih satu setengah jam sebelum akhirnya perjalanan pulang dan sampai di Pon Pes AL-BAIAD sekitar pukul setengah sebelas malam. Alhamdulillah, acara ziarah ini berjalan lancar. (sif)

Posted by: albaiad | Mei 11, 2008

Peran dan Fungsi Pendidikan Dalam Perkembangan Anak

oleh : Azmi Ulfia Farista

Mahasiswa sekaligus santri pesantren darul Ibadah Al-Baiad Surabaya

Kegiatan pendidikan selalu berlangsung didalam suatu lingkungan. Dalam konteks pendidikan, lingkungan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berada diluar diri anak. Lingkungan dapat berupa hal-hal yang nyata, seperti tumbuhan, orang, keadaan, politik, sosial ekonomi, binatang, kebudayaan, kepercayaan, dan upaya lain yang dilakukan oleh manusia termasuk didalamnya pendidikan.

Dalam memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, lingkungan ada yang sengaja diadakan (usaha sadar) ada yang tidak usaha sadar dari orang dewasa normatif yang disebut pendidikan, sedang yang lain disebut pengaruh. Lingkungan yang dengan sengaja diciptakan untuk mempengaruhi anak ada 3, yaitu : Lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Ketiga lingkungan ini disebut lembaga pendidikan atau satuan pendidikan.

A. Pengertian Pendidikan

Mendidik dan pendidikan adalah dua hal yang saling berhubungan. Dari segi bahasa, mendidik ialah kata kerja, pendidikan adalah kata benda. Kalau kita mendidik, kita melakukan suatu kegiatan atau tindakan. Kegiatan mendidik menunjukkan adanya yang mendidik disatu pihak dan yang dididik dilain pihak. Dengan kata lain, mendidik adalah suatu kegiatan yang mengandung komunikasi antara dua orang manusia atau lebih.

Sedangkan menurut pendapat beberapa ahli tentang yang disebut mendidik atau pendidikan , antara lain :

  • S.A.Branata, dkk : Pendidikan ialah usaha yang sengaja diadakan, baik langsung maupun dengan cara tidak langsung, untuk membantu anak dalam perkembangannya mencapai kedewasaannya.

  • Rousseau : Pendidikan adalah memberi kita perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.

  • Ki Hajar Dewantara : Mendidik ialah menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

B. Pendidikan Dilingkunagn Keluarga

Keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak. Disinilah pertama kali ia mengenal nilai dan norma. Karena itu keluarga merupakan pendidikan tertua, yang bersifat informal dan kodrati. Pendidikan dilingkungan keluarga berfungsi untuk memberikan dasar dalam menumbuh kembangkan anak sebagai makhluk individu, sosial, susila dan religius.

Fungsi lembaga pendidikan keluarga, yaitu :

  1. Merupakan pengalaman pertama bagi masa kanak-kanak, pengalaman ini merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangna berikutnya, khususnya dalam perkembangn pribadinya. Kehidupan keluarga sangat penting, sebab pengalaman masa kanak-kanak akan memberi warna pada perkembangan berikutnya.

  2. Pendidikan dilingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang, kehidupan emosional ini sangat penting dalam pembentukan pribadi anak. Hubungan emosional yang kurang dan berlebihan akan banyak merugikan perkembangan anak.

  3. Didalam keluarga akan terbentuk pendidikan moral. Keteladanan orng tua didalam bertutur kata dan berprilaku sehari-hari akan menjadi wahana pendidikan moral bagi anak didalam keluarga tersebut, guna membentuk manusia susila.

C. Pendidikan Dilingkungan Sekolah

Sekolah adalah lingkungan kedua bagi anak. Disinilah potensi anak akan ditumbuh kembangkan. Sekolah merupakan tumpuan dan harapan orang tua, masyarakat, dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas sekolah sangat penting dalam menyiapkan anak-anak untuk kehidupan masyarakat. Sekolah bukan semata-mata sebagai konsumen, tetapi juga sebagai produsen dan pemberi jasa yang sangat erat hubungannya dengan pembangunan.

Jenis pendidikan sekolah adalah jenis pendidikan yang berjenjang, berstruktur dan berkesinambungan, sampai dengan pendidikan tinggi. Jenis pendidikan sekolah mencakup pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan kedinasan, pendidikan keagaman, dan pendidikan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

D. Pendidikan Dilingkungan Masyarakat

Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Pandangan hidup, cita-cita bangsa, sosial budaya dan perkembangan ilmu pengetahuan akan mewarnai keadaan masyarakat tersebut. Masyarakat mempunyai peranan yang penting dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.

Melalui pendidikan dimasyarakat anak akan dibekali dengan penalaran, keterampilan dan sikap makarya, sering juga pendidikan dimasyarakat ini dijadikan upaya mengoptimalkan perkembangan diri. Bentuk-bentuk pendidikan kemasyarakatan sebenarnya telah lama ada dan tersebar secara luas dalam masyarakat Indonesia serta merupakan kegiatan yang tidak terpisahkan dari kebudayaan bangsa. Berbeda dengan jalur pendidikan di sekolah, pendidikan kemasyarakatan tidak selalu dimaksudkan sebagai pengantar untuk memasuki lapangan kerja. Namun melelui jalur pendidikan kemasyarakatan dapat diperoleh kemampuan dan keahlian yang dapat dijadikan persyaratan memasuki lapangan kerja atau tidak terikat dengan formalitas akademik secara ketat, sekalipun kesempatan untuk memperoleh efek akademik tetap terbuka.

Posted by: albaiad | Mei 1, 2008

6 Tips Menggapai Kebahagiaan

1.Keimanan dan perbuatan baik
Dua hal ini akan membentuk seseorang rela terhadap segala ketentuan Allah untuk dirinya, selalu bersyukur atas segala kebaikan dan sabar menghadapi segala musibah yang melilitnya
2.Berhias diri dengan perangai baik
Sikap baik dan buruk akan menjadi bumbu dalam berinteraksi, maka perangai akhlak yang baik harus selalu menghiasi perangainya

3.Selalu mengingat Allah
Artinya, kita harus selalu merasa diawasi dan dipantau oleh Allah akan membuat hati kita tenteram dan tenang menghadapi semuaa kejadian di permukaan bumi
4.Menjaga Kesehatan Jasmani dan Rohani
Jagalah baik-baik kesehatan kita, karena kesehatan akan membantu untuk beraktifitas di jalan kebaikan
5.Berusaha untuk memiliki harta yang bisa menghantarkan pada kebahagiaan
Islam tidak mengingkari bahwa harta juga memiliki peran penting untuk membahagiakan seseorang, namun Islam juga mengingatkan bahwa harta melimpah tidak menjamin seseorang menjadi bahagia.
6.Mengatur waktu
Dengan pengaturan waktu yang Efektif dan Efisien, ketenangan dan kesehatan jiwa akan senantiasa terjaga dan aktivitas baikpun akan selalu menyertainya.

(oleh Nur Maya Islamiyah, pelajar sekaligus santri Madrasatul Qur’an Pelita Hati Az-Zahro Pesantren Darul Ibadah AL_BAIAD Surabaya)

Posted by: albaiad | Mei 1, 2008

“Kebutuhan”, dipenuhi atau memenuhi?

Mulai hari ini (1 mei ) sampai sebulan ke depan (hingga 31 Mei Mendatang), masyarakat Surabaya akan dimanjakan dengan belanja diskon, berhadiah dan aneka hiburan di 14 pusat perbelanjaan besar di metropolis.
Rencananya nanti malam (1/5), Even belanja terbesar tahun ini, Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008 akan dibuka dan diresmikan oleh Walikota Surabaya Bambang D.H. di Atrium Tunjungan Plaza I.
Sebuah acara yang menurut saya, hanya akan menumbuhsuburkan budaya konsumtif masyarakat kita.
Bagaimana tidak, even yang diikuti oleh sekitar lima ribu tenant (stan) yang tersebar di 14 pusat perbelanjaan besar metropolis tersebut akan memprovokasi masyarakat untuk pergi ke pusat perbelanjaan, mentrigger syahwat berbelanja mereka.
Berbagai embel-embel yang diusung, mulai dari diskon-yang konon katanya sampai 70%-, belanja berhadiah, dan embel-embel lain yang sifatnya memanjakan akan menjadi magnet.
Tak jauh-jauh, saya sendiri yang memperoleh informasi tersebut dari surat kabar, secara tak saya duga timbul keinginan untuk datang ke festival belanja tersebut. Maklum saja, ada sebuah kebutuhan yang perlu saya penuhi dan ini sudah lama saya rencanakan. Jadi maklum dong, kan mumpung ada diskon, hwekekekeke…..
Nah, yang menjadi perbincangan adalah jika tidak memiliki kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi, lantas pertimbangannya hanya satu ”kan mumpung ada diskon, belanja saja sekarang ….”
Ujung-ujungnya tentu akan mencari-cari kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan. Aneh juga kedengarannya? Memenuhi kebutuhan dengan kebutuhan.
Pergeseran makna kebutuhan, dari objek yang harus dipenuhi menjadi subjek yang memenuhi.
Persoalan ini mirip dengan persoalan mengenai perang tarif antar operator seluler di tanah air yang berlomba-lomba menjadi yang termurah, dengan berbagai syarat dan batasan-batasan di sana-sini tentunya.
Ambil saja contoh salah satu penyedia layanan seluler yang memberikan bonus SMS setelah memakai beberapa rupiah dari pulsanya. Orang yang tidak pikir panjang pasti akan langsung termakan untuk merelakan pulsanya demi SMS gratis tersebut (termasuk saya,tapi itu dulu-hwekekeke…). Atau penyedia layanan yang memberikan tarif murah setelah pemakaian pulsa sampai beberapa menit.
Berbagai menu murah tesebut hanyalah sebuah kamuflase yang ujung-ujungnya adalah pemakaian pulsa yang boros, tidak efisien dan hanya memuaskan dan menambah pundi-pundi keuntungan bagi operator.
Sementara di satu sisi kita telah mengalami-secara tidak sadar-degradasi budaya hemat.
Orang semakin tidak efektif dan efisien dalam tindak-tanduknya. Budaya produktif pun tergerus oleh kemanjaan yang ditawarkan oleh budaya konsumtif. Orang-orang –termasuk saya di dalamnya- telah banyak berbuat sesuatu yang tidak penting. Padahal dikatakan oleh orang-orang bijak dalam banyak buku bahwa ”barangsiapa yang mengejar sesuatu yang tidak penting maka ia akan kehilangan sesuatu yang penting…..”.


(Oleh Asif Faroqi, Kepala departemen pengembangan dan pemberdayaan potensi santri Majelis Ta’lim Ahad Dluha, Pesantren Darul Ibadah AL-BAIAD)
Posted by: albaiad | April 28, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori